Tales of Zestiria hadir dengan cerita dan gameplay menarik, tanpa melupakan fan serviceKepopuleran game RPG khas negeri Jepang atau biasa disebut JRPG hingga saat ini terus kuat dan selalu mendapatkan tempat di hati para gamer. Bahkan bila dibandingkan dengan Action RPG dan RPG bercerita rumit ala negeri barat sekalipun, JRPG tetap bisa dinikmati dengan sepenuh hati. Semua itu berkat ciri khasnya yang mengutamakan cerita ala novel dan grinding selama puluhan jam demi menaikkan level yang masih tetap dicintai penggemarnya. Dari semua JRPG yang ada saat ini, hanya segelintir game yang mampu terus hadir dengan membawa nama serinya, seperti seri JRPG Tales, Persona, dan Final Fantasy.
Kualitas animasi yang mendukung ceritanya digarap dengan seriusSeri Tales memang tidak memperlihatkan umurnya dengan menggunakan angka di belakang seri gamenya, seperti Final Fantasy. Akan tetapi, semua penggemar JRPG tentu sangat mengenal seri ini, mulai dari kepopuleran Tales of Phantasia dan Tales of Destiny sekitar 20 tahun lalu. Hingga kini, setidaknya telah muncul 15 seri game Tales, termasuk Tales of Zestiria. Bahkan Bandai Namco sebagai Publisher seri JRPG tersebut telah merencanakan untuk merilis Tales of Berseria sebagai seri ke-16 untuk PS3 dan PS4.
Drake? No problem!Panjangnya umur seri game tersebut tentu bukan semata dari keberuntungan saja. Kualitas gamenya sendiri memang begitu mengesankan, terutama ceritanya. Seperti yang diketahui oleh semua gamer pecinta JRPG, kekuatan genre ini berasal dari cerita yang bagus. Tanpa adanya faktor narasi tersebut, gamer hanya akan ditinggalkan dengan puluhan jam grinding semata. Meskipun grinding untuk menaikkan level sudah mendarah daging dalam diri gamer JRPG, tetapi hanya mengandalkan elemen itu saja tentu tidak akan membuat seri JRPG mampu bertahan selama 20 tahun.
Melawan musuh berukuran lebih besar itu biasaPada Tales of Zestiria, Bandai Namco menampilkan cerita yang begitu apik, baik dari sisi kedalaman ceritanya maupun humor yang terkandung di dalamnya. Bagi penggemar setia seri Tales, sentilan percakapan pendek jenaka yang biasanya muncul dalam mini event, atau disebut juga dengan Skits dalam seri game ini, adalah resep paling jitu untuk menjaga gamer betah seharian di depan layar. Selain untuk menghilangkan kejenuhan, Skits juga memperlihatkan emosi yang berkembang di antara setiap karakternya. Hal ini juga masih terlihat begitu kental dan terjaga dalam Tales of Zestiria.
Dialog pada Skits begitu menghiburBeralih ke permainannya sendiri, Tales of Zestiria memperlihatkan gameplay penuh aksi, terutama dalam scene battle. Pada seri terbarunya ini, Anda dapat menemukan sistem battle menjadi lebih rumit dan memerlukan taktik, terutama ketika melawan musuh dengan kekuatan besar, misalnya Boss di suatu Dungeon. Cukup banyak yang perlu dipelajari, bahkan Anda dapat menemukan pelajaran mengenai sistem battle yang diselipkan ke dalam Skits! Sedangkan musuh yang akan Anda hadapi tidak mengenal ampun dan akan meratakan party Anda dengan sekejap bila sistem tersebut tidak dapat Anda aplikasikan dengan segera.
Tampilan dunianya begitu indah dan tetap berkesan animeKejutan lain berasal dari begitu banyaknya fitur permainan yang dapat ditemukan ketika bermain. Ketika Anda merasa fitur yang muncul setelah bermain puluhan jam sudah final, game ini kembali mengejutkan Anda dengan fitur baru! Namun, hal ini bukanlah kekurangan dalam game ini. Sebab, semua fiturnya begitu menarik dan semakin mempercantik game ini hingga Anda akan betah duduk membatu ketika bermain.
Dari padang rumput hingga jalan gelap berbatu
Cerita, Jantung dari Seri Tales
Narasi cerita merupakan pusat terpenting dalam JRPG. Hal ini terlebih besar lagi artinya untuk seri Tales. Pada Tales of Zestiria, Anda akan menemukan kisah yang menceritakan perjalanan Sorey, anak muda dengan asal muasal misterius. Ketika kecil, ia ditemukan oleh kawanan kaum Seraphim, makhluk berkekuatan mistis yang mampu memengaruhi dunia bernama Glenwood. Akibat menurunnya hubungan dan keharmonisan antara manusia dengan Seraph, pada zaman itu manusia sudah tidak bisa lagi melihat wujud nyata Seraph meskipun mereka berdiri di depan manusia. Seraph bisa disamakan dengan kaum Jin yang saat ini hanya bisa dilihat oleh segelintir manusia saja di dunia.
Game ini tahu kapan menyisipkan momen kocak dan kapan seriusBerkat bimbingan kaum Seraph, Sorey tumbuh menjadi anak muda yang begitu polos dan murni. Hal ini pula yang membuatnya mampu menjalani takdirnya sebagai Shepherd, tokoh legenda di Glenwood yang bertugas membersihkan dan menyelamatkan dunia dari raja kejahatan bernama Lord of Calamity. Ditemani rekan setianya dari kaum Seraph dan manusia, Sorey berpetualang mengelilingi dunia demi membersihkan dan menghidupkan kembali hubungan antara manusia dengan Seraph yang dahulu kala pernah terjalin.
Pada akhirnya, Anda akan lebih penasaran mengejar Skits dibandingkan cerita utamanyaMeskipun ceritanya terlihat sederhana, tetapi game ini memperlihatkan alur cerita yang begitu dalam dan menarik. Apa yang terlihat tidak selalu demikian adanya. Begitu juga dengan kenyataan bahwa ada saja pihak manusia yang berusaha untuk menguasai kekuatan Shepherd demi keuntungannya sendiri, meskipun dengan risiko kehancuran dunia. Semua itu dinarasikan dengan sangat baik dalam beragam percakapan, Skits, dan event. Menariknya, game ini memberikan akses kepada Anda untuk menggunakan aktor suara asli dari versi Jepang.
Setiap karakter memiliki kepribadian yang jelas dan mudah diingatPengisi suara Jepang yang digunakan di dalam game ini juga tidak sembarangan. Mereka semua adalah tokoh pengisi suara atau biasa disebut Seiyuu yang telah berpengalaman di banyak film Anime terkenal serta game. Oleh karena itu, bila Anda sering menonton film seri Anime, pastinya Anda akan segera mengenali beberapa suara yang ditampilkan dalam game ini. Bahkan, game ini juga menampilkan suara Miyu Matsuki sebagai pengisi suara Lailah yang menjadi Seraph paling dekat dengan Sorey. Suara Seiyuu ini bisa ditemukan pada Anime Hayate no Gotoku, Fullmetal Alchemist, Hidamari Sketch, dan masih banyak lagi. Suara pada tokoh Lailah juga menjadi memento bagi penggemar Seiyuu ini, sebab pada Oktober lalu ia telah wafat di umur 37 tahun akibat penyakit yang dideritanya.
Game ini tidak hanya ditujukan untuk gamer pria saja
Assalamualaikum wr.wb Kembali lagy bersama saya hery selasa, ok guys divideo baru kali ini gw akan share video game horror wick, gila gw ditinggal temen gw sendirian di hutan dan cuman di kasih lilin uji nyali banget, gw cuman bisa teriak - teriak ga jelas wkwk. #heryselasa#wick#part1
Minimum System Requirements
OS: Windows XP/Vista/7
CPU: 2.0 GHz Dual Core CPU
RAM: 2 GB
Hard Drive: 1 GB Free
Video Memory: 512 MB NVIDIA GeForce 9800GTX / ATI Radeon HD 3xxx series
Sejak kecil, saya suka dengan hal-hal yang berbau antariksa. Eh, adakah anak laki-laki yang tidak menyukainya? Setelah beranjak remaja, minat saya bertambah ke hal-hal yang menegangkan: horror, suspense, dan thriller. Dead Space (2008) adalah kombinasi kedua minat saya itu: horror di antariksa.
Pesta Mutilasi Tubuh Necromorph
Dead Space merupakan game survival horror yang bersetting di sebuah kapal ruang angkasa, USS Ishimura, pada tahun 2508. Entah bagaimana sebuah kapal yang (tampaknya) dijalankan oleh orang-orang kaukasian ini mengambil nama Jepang. Yang jelas, game bermula dari tibanya kapal USG Kellion yang datang untuk menyelidiki USG Ishimura yang mengirimkan sinyal bahaya saat menambang di planet Aegis VII. Misi kapal USG Kellion yang berkru Isaac Clarke, Zach Hammond, dan Kendra Daniels adalah menyelidiki apakah yang terjadi pada USG Ishimura. Malang, sistem USG Kelliion rusak, sehingga kru-nya harus mendarat di USG Ishimura.
Protagonis yang kita mainkan adalah seorang teknisi bernama Isaac Clarke. Ia seorang teknisi biasa, bukan jagoan a la Chris Redfield atau Leon Kennedy. Karena seorang teknisi, maka misi-misi yang dimainkan berkutat dengan memperbaiki ini, memperbaiki itu. Begitu saja? Tentu tidak, dalam melaksanakan misinya, ia akan diganggu makhluk-makhluk aneh yang disebut sebagai necromorph. Necromorph ini adalah kru Ishimura yang sudah terinfeksi oleh �sesuatu� sehingga berubah menjadi kombinasi antara manusia dan alien. Untuk mudahnya, necromorph ini semacam zombie, namun alih-alih berujud mayat hidup, necromorph berujud kombinasi antara mayat manusia dan makhluk aneh. Cerita jadi agak lebih dalam karena Isaac pun mempunyai misi pribadi: berusaha menemukan dan menyelamatkan wanita yang ia cintai, Nicole Brennan, seorang kru medis Ishimura.
Karena seorang teknisi, senjata yang dipakai Isaac pun sebenarnya bukan merupakan senjata. Lebih tepatnya, mereka adalah alat-alat teknik tambang yang bisa dijadikan senjata. Ada plasma cutter, line blade, rotary saw. Ini merupakan pengembangan yang unik dari senjata yang biasa dipakai dalam game. Senjata semacam baretta, magnum, sub machine gun, assault rifle adalah senjata yang sudah biasa dalam dunia game. EA Redwood Shores sebagai developernya cukup apik dalam ide ini. �Senjata� ini pun bisa kita upgrade jika kita menemukan bench di Ishimura. Untuk mengupgradenya, kita membutuhkan node yang kita peroleh dari hasil kita membantai necromorph.
Percayalah! Laksanakan pesan ini! Petualangan Isaac akan lebih mudah
Dead Space juga menawarkan sesuatu yang baru dalam hal pembantaian musuh. Tembakan di kepala atau dada mereka hanya melemahkan mereka sedikit . Alih-alih menembak di kepala, anggota badan mereka harus diputuskan. Tangan, kaki, tambahan anggota badan seperti tangan yang runcing-runcing itu, sulur; semuanya harus dipotong dengan alat teknis Issaac agar mereka mati. Setahu saya, keharusan memutilasi musuh ini belum pernah ada pada game-game sebelumnya. Dalam proses potong-memotong ini, darah akan bermuncratan ke mana-mana. Pada necromorph yang sudah terkapar pun, kadang masih tampak darah yang memancar seperti air mancur.
Kengerian dalam game ini dibangun dengan cukup baik, bahkan menurut saya mendekati sempurna. Ishimura yang lengang dan gelap sangat mencekam. Seringkali kita menemukan ceceran darah, atau jejak darah bekas korban yang diseret para necromorph. Kadang-kadang kita menemukan mayat-mayat yang bergelimpangan dengan genangan darah. Tidak hanya itu, kita kadang hanya menemukan sebagian dari sisa-sisa mayat itu: potongan kepala, potongan kaki, separuh tubuh bagian atas. Jika beruntung, kita juga bisa menemukan sisa kru Ishimura yang masih hidup dan tidak menjadi necromorph, tapi mereka sudah gila. Teknologi grafis yang sudah lumayan maju pada 2008 merupakan modal besar dalam membangun kengerian visual di Dead Space ini. Sudah tidak ada lagi darah muncrat agak kotak-kotak seperti di Resident Evil 1, 2, dan 3.
Tidak untuk yang mudah muntah melihat beginian
Kengerian visual ini masih ditambah lagi dengan kengerian audio. Para necromorph bersembunyi di atas sistem ventilasi Ishimura. Kadang-kadang kita mendengar dentang langkah mereka menjejak logam. Kadang-kadang kita mendengar geraman mereka dari arah samping belakang. Kadang-kadang kita mendengar suara wanita membisikkan sesuatu. Bisikannya tidak jelas, dan cukup mengganggu.
Kengerian ini masih ditambah efek kekagetan karena serangan necromorph. Kita tidak pernah tahu mereka akan menyerang dari mana. Mereka bisa menyerang dari atas, samping, dan belakang. Kadang-kadang, tiba-tiba saja Issaac sudah dikepung necromorph dari segala arah. Kekagetan ini masih ditambah lagi dengan sistem inventory yang berujud hologram mengambang secara real time. Jika kita ingin berganti senjata pada saat diserang, layar tidak serta merta membawa kita ke tampilan full screen sistem inventory layaknya Resident Evil 1, 2, 3, 4 atau Silent Hill 1, 2, 3 �yang mampu membuat kita istirahat sejenak memilih-milih senjata. Tidak, sistem inventory berujud hologram mengambang di Dead Space dijalankan secara real time dalam tampilan layar yang sama pada waktu kita diserang. Walhasil, waktu kita mengganti senjata, ada kesempatan necromorph menyerang kita, dan kita akan melihat serangan tersebut.
Inventory yang mengambang kayak gini tidak bisa dipakai istirahat sejenak
Pertarungan akan lebih menegangkan jika Isaac berada di ruang hampa udara atau ruang yang udaranya beracun. Oksigen yang ia gunakan akan menurun bersesuaian dengan lamanya ia berada di ruang tersebut. Hal ini berarti pemain harus menyelesaikan misi Isaac lebih cepat di ruangan tersebut. Di ruang hampa udara yang tidak punya gravitasi, kadang-kadang para necromorph melayang-layang bebas, tidak jelas menyerang dari mana.
Keunikan lain dari game ini adalah adanya modul stasis dan kinesis. Stasis digunakan untuk membekukan atau melambatkan sesuatu (bisa musuh, pintu, lift). Sedangkan kinesis digunakan untuk menggerakkan sesuatu atau mengambil lalu melemparkan sesuatu. Namun kinesis ini juga yang membuat saya merasa aneh. Masa untuk mengambil batere dan memasangkannya ke slot di dinding, Isaac harus menggunakan kinesis? Bukanlah lebih mudah untuk mengambilnya dan memasangkannya dengan tangan saja?
Cutscene yang tidak terpotong dari gameplay-nya. Sip!
Satu hal yang saya suka dari game ini adalah cut scene yang tidak terpisah dari gameplaynya. Saat Isaac diajak ngobrol dengan kru USG Kellion lainnya, tidak ada perubahan sudut pandang kamera yang ekstrim sebagaimana terjadi misalnya di Resident Evil 4 atau 5. Hanya kadang-kadang kita tidak bisa mengendalikan kamera itu. Bahkan pada beberapa adegan dialog, kita masih bisa menggerakkan Isaac sementara Hammond mengajaknya ngobrol terus. Ini tampaknya berkaitan dengan Isaac yang memang tidak perlu ngomong alias memang didesain sebagai protagonis yang pendiam. Walaupun agak aneh, saya suka dengan ide protagonis yang pendiam ini. Biasanya protagonis digambarkan bisa ngomong, bahkan dengan agak sombong. Sekali lagi, EA Redwood shores membuat sesuatu yang berbeda.
Satu hal yang sangat mengganggu adalah kendali mouse yang agak susah. Isaac selalu saja terlambat mengikuti mouse yang saya gerakkan. Pertama kali mengalami ini, saya kira spesifikasi komputer saya yang menyebabkan lag mouse seperti ini. Setelah baca forum game di sana-sini, konon, keterlambatan gerak Isaac ini memang disengaja developer agar tingkat ketegangan bertambah. Tentu saja ini menimbulkan pro kontra. Dan saya termasuk yang terakhir; kelompok yang lebih banyak daripada yang pertama. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini, yaitu v-sync di game diset off, dan memaksa kartu grafis yang melakukan v-sync. Konon ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Namun saya melakukan cara yang kedua: memakai emulasi Xbox controller. Banyak gamer yang berhasil mengatasi keterlambatan gerak Isaac ini dengan memakai controller Xbox. Bagi saya, controller Xbox masih merupakan barang yang mahal. Beruntung ada emulatornya. Berbekal gamepad abal-abal made in China, dan dengan aplikasi tambahan xboxce, selesailah masalah gerak Isaac yang terlambat.
Secara keseluruhan, inilah game pertama yang saya nilai memenuhi kriteria suram, gelap, dan berdarah-darah. Dalam arti letterlejk, memang demikianlah keadaan Ishimura: suram, gelap, dan penuh dengan cipratan darah. Dalam pemaknaan simbol, kesuraman dan kegelapan game ini dilambangkan dengan protagonis yang diam membisu, pencarian akan kekasihnya yang tak kunjung ketemu, dan ketidakberdayaannya untuk menentang perintah kru USG Kellion melakukan ini dan itu. Kadang saya bertanya-tanya, mengapa Isaac tidak langsung saja mencari Nicole dan masa bodoh dengan permintaan Hammond serta Daniels. Sisi berdarah-darah tercapai dengan keharusan memotong-motong anggota tubuh necromorph. Menembak kepala musuh saja sudah cukup sadis bagi sebagian orang. Bagaimana dengan keharusan memotong-motong?
Mengingatkan saya akan Krane: Si Pemburu Pembajak
Game ini sangat memuaskan kerinduan saya akan petualangan di antariksa yang berpadu dengan ketegangan. Grafis yang bagus mengingatkan saya akan komik antariksa pertama saya, Krane Si Pemburu Pembajak terbitan Indira. Komik yang terbit sekitar 30 tahun lalu ini sudah menampilkan gambar-gambar grafis goresan Lionel Bret yang halus bak hasil pengerjaan komputer. Sayang, komik ini dihilangkan teman SD saya. Kerinduan saya akan Krane yang hilang sedikit terobati dengan Dead Space. Sampai saat ini ditulis, Dead Space masih terinstall di PC saya setelah upgrade PC saya yang terakhir satu setengah tahun lalu. Dan saya masih ingin memainkannya lagi.
Judul: Dead Space Genre: Survival horror, third person shooter Rilis: 2008 Developer: EA Redwood Shores Publisher: Electronic ARts Platform: Windows, PS3, Xbox 360
Call of duty WAW merupakan seri ke-5 dari game Call of Duty. Sama seperti Call of Duty 1 dan 2, game ini masih menceritakan perang pada saat perang dunia kedua lalu. Latar pada game Call of Duty World at War ini lebih menonjolkan perang antara sekutu melawan jerman dan jepang di daerah Asia Pasifik dan Eropa Timur, dimana di daerah tersebut merupakan terjadinya perang paling besar dan mematikan selama perang dunia kedua. Loh kok malah jadi cerita sejarah ya, hehe.
Screenshot
Minimum System Requirements :
Processor: Intel Pentium 4, AMD 64 3200+ atau lebih tinggi
OS: Windows XP, Vista, 7, 8, 8.1
RAM: 1 GB atau lebih tinggi
HDD: 8 GB tersedia
VRAM: 128 MB atau lebih tinggi
Cara Install :
Download Call of Duty World at War melalui link di atas
Ekstrak file yang sudah kamu download tadi dengan WinRAR
Buka folder hasil ekstrak, kemudian jalankan setup.bat
Klik Enter, lalu tunggu sampai instalasi selesai
Jika sudah selesai, jalankan CoDWaW.exe
Apabila setelah memilih difficulty namun kembali ke menu awal, close dulu game-nya
Buka folder #readme#, kemudian jalankan delete_game_from_registry.reg > Yes > OK
Ada selebriti Instagram, selebriti Twitter, dan yang semakin bertumbuh adalah selebriti Youtube atau kerap disebut YouTuber.
Saking maraknya fenomena YouTuber, studio game asal Barcelona U-Play Online tertarik membuat game bertajuk YouTubers Life untuk Windows, Mac OS X, dan Linux. Game tersebut baru saja dirilis pekan lalu, tepatnya pada 18 Mei 2016.
Mirip The Sims
Sesuai namanya, YouTubers Life adalah game simulasi tentang seorang YouTuber. Konsepnya kurang lebih seperti The Sims, hanya saja lebih fokus ke kehidupan para YouTubers.
Mula-mula pemain harus memilih karakter sebagai seorang YouTuber. Jika ingin membuat konten tentang dunia masak, pemain bisa mendandani diri layaknya seorang koki.
Begitu pula jika pemain ingin berperan sebagai YouTuber yang menciptakan konten tentang musik, gaming, atau hal-hal menarik lainnya. Semua bisa dipersonifikasi.
Cuplikan game YouTubers Life(youtuberslife.com)
Tahapan selanjutnya adalah membuat konten. Pengguna harus menggarap video untuk kemudian mengeditnya. Jika sudah mantap, video bisa dipublikasikan ke youtube
Nah, pasca produksi adalah tahap yang paling menentukan bagi seorang YouTuber. Pemain harus pandai mempromosikan kontennya agar channel Youtube ditonton banyak orang dan berkembang.
Sama seperti YouTubers di kehidupan nyata, pemain di game ini juga bisa memonetisasi videonya saat penonton sudah banyak, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Rabu (25/5/2016) dari situs resmi U-Play Online.
Pada level tertentu, kemampuan manajerial keuangan juga penting. Jangan sampai uang yang dikumpulkan terbuang untuk kebutuhan yang tak produktif.
Cuplikan game YouTubers Life(youtuberslife.com)
Untuk menambah subscriber dan memelihara popularitas, pemain juga harus ramah ke penggemar. Maka dari itu, pemain bisa membalas komentar para penggemar di berbagai jejaring sosial yang tersedia pada game.
Assalamualaikum wr.wb Kembali lagi bersama saya hery selasa, kali ini saya akan upload video reaction dari AKB48 dimana gw akan react salah satu personil akb48 yang kawai banget dan kerekam keseharianya dimana dia bilang suka ke gw penasaran kawainya seperti apa?? langsung tonton aja videonya. #heryselasa#akb48#kawai#suki#idoljepang
Outlast adalah salah satu franchise �baru� game horror yang bisa terbilang sukses. Ia meminjam konsep game horror yang sebenarnya tak bisa dibilang original, sesuatu yang sudah dijadikan oleh game seperti Slenderman dan Amnesia sebagai daya tarik. Sebuah game horror dimana Anda berperan sebagai karakter utama yang tak bisa melawan dan harus bersembunyi dari semua ancaman yang ada. Walaupun demikian, dibandingkan dengan dua game tersebut, Red Barrels berhasil mengeksekusi banyak hal lainnya dengan lebih sempurna. Atmosfer, mekanik gameplay unik, tata suara unik, hingga konten penuh darah dan mutilasi yang tak menahan diri sama sekali. Hanya dalam waktu singkat, Outlast tumbuh menjadi sebuah seri game horror yang dipuja-puji, sukses dari sisi penjualan, dan berakhir menjadi game yang terus diantisipasi kelanjutannya. Sebuah mimpi yang akhirnya dipenuhi Red Barrels lewat seri kedua yang akan meluncur tahun depan � Outlast 2.
Lewat serangkaian screenshot dan trailer perdana yang dirilis ke pasaran, Oulast 2 terlihat memenuhi hampir semua hal yang Anda antisipasi darinya. Kualitas visual yang mengalami peningkatan dibalut dengan atmosfer, cerita, karakter, dan �musuh� baru untuk diwaspadai. Tak seperti seri pertama dimana sang karakter utama terperangkap dalam ruangan tertutup yang dihiasi koridor penuh koridor, Red Barrels sepertinya ingin Anda menghirup sedikit bau darah di luar ruangan dengan seri kedua ini. Semuanya ditemani dengan cahaya bulan yang sedikit redup dan kegelapan mencekam yang natural di atasnya. Sejauh ini semua formula tersebut berhasil untuk membuat bulu kuduk kami merinding.
Kini tak lagi sekedar hanya bisa dicicipi lewat screenshot atau trailer, Red Barrels akhirnya merilis demo singkat Oulast 2 untuk semua platform rilis yang ada � Playstation 4, Xbox One, dan PC. Ia mungkin membawa konten yang minim, namun ia terhitung berhasil merepresentasikan daya tarik seperti apa yang ingin dijual Red Barrels dengannya.
Lantas, seperti apa impresi pertama seperti apa yang ditawarkan oleh demo yang satu ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah mimpi terburuk? Review impresi kami ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Outlast yang Anda Kenal
Masih seperti Outlast yang Anda kenal.
Di seri kedua ini, setidaknya dari sedikit sinopsis cerita yang dilemparkan di layar pertama Anda mencicipi sang demo, Anda kembali akan berperan sebagai seorang wartawan bernama Blake Langermann. Pekerjaannya sebagai seorang wartawan investigatif membawanya ke sebuah region yang asing untuk menyelidiki kasus terbunuhnya seorang ibu muda yang tengah hamil bernama Jane Doe. Dari cerita seperti ini saja, Anda bisa memprediksi seri sekuel seperti apa yang akan Anda dapatkan.
Anda kembali berperan sebagai seorang wartawan investigatif.Kamera menjadi �senjata� utama untuk melihat objek jauh atau di dalam kegelapan. Tentu saja, Anda tetap harus mengatur resource baterai yang Anda temukan untuk membuatnya tetap berfungsi.
Dari demo singkat yang bisa Anda selesaikan hanya dalam waktu 20 menit saja ini, Anda akan bertemu dengan mekanik gameplay yang serupa dengan Outlast sebelumnya, tanpa ada perubahan yang mendasar sama sekali. Anda masih akan dibekali dengan sebuah kamera yang memuat mode Night Vision di dalamnya untuk melihat lebih baik di kegelapan dengan kemampuan zoom yang cukup luar biasa untuk memerhatikan objek di kejauhan. Dan seperti seri pertama pulanya, baterai akan jadi resource paling penting untuk memastikan kamera Anda terus bekerja, apalagi jika Anda secara konsisten menggunakan mode Night Vision yang ada.
Seperti yang bisa diprediksi, tak ada kesempatan untuk melawan balik.Mekaniknya akan terasa familiar untuk Anda yang sempat mencicipi seri pertamanya, tanpa perubahan apapun.
Hampir tak ada perubahan mekanik yang berarti, karena karakter utama Anda tetap tidak bisa melawan. Anda tetap hanya bisa berlari, bersembunyi, dan berusaha untuk tak terlihat di depan sumber ancaman yang sepertinya akan berakhir, menjadi makhluk atau manusia apapun di luar Anda sendiri. Anda bisa bersembunyi di beragam tempat untuk mengecoh mereka, dengan mekanik lari untuk bergerak lebih cepat namun butuh waktu istirahat untuk memulihkan stamina yang ada. Familiar? Karena memang demikian adanya. Red Barrels sepertinya mengerti bahwa mereka sudah mengeksekusi hampir semua hal tepat di seri pertama, dan kini hanya perlu menyempurnakannya untuk seri kedua ini. Rasa familiar ini juga akan membuat gamer yang asing untuk langsung terjun ke kedua seri ini nantinya jika mereka merasa penasaran. Sebuah strategi dan pendekatan yang tampaknya akan membuat gamer manapun berkeberatan.